Selasa, 27 Desember 2016

Pengantar Epidemiologi Analitik Kelompok 12

TUGAS TERSTRUKTUR
MATA KULIAH EPIDEMIOLOGI
PENGANTAR EPIDEMIOLOGI ANALITIK




Disusun oleh :
Kelompok :12
Kelas : A
Diana Setianing Asih            G1B014055
Hana Nabilah                                    G1B014099
Ira Phoibe Nababan             I1A015012
Zahrotun Nisa Andriani       I1A015031
Gammalia Gracia Ardani    I1A015079
Mairina Yulistiani                 I1A015097



KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Epidemiologi sebagai salah satu disiplin ilmu kesehatan yang relatif masih baru bila dibandingkan dengan beberapa disiplin ilmu lain, pada saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Epidemiologi terbagi atas dua kelompok yaitu, kelompok epidemiologi deskriptif dan epidemiologi analitik, dalam makalah ini akan dibahas tentang epidemiologi analitik. Epidemiologi analitik adalah ilmu yang mempelajari determinan yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dan distribusi penyakit atau masalah yang berkaitan dengan kesehatan (Lapau, 2009). Epidemiologi analitik merupakan fase kedua dari fase pendekatan epidemiologi karena pada fase ini dicoba untuk menganalisis penyebab penyakit dengan cara menguji hipotesis untuk menjawab pertanyaan seperti bagaimana timbulnya dan berlanjutnya penyakit.
Unit analisis dari studi epidemiologi adalah sekelompok masyarakat yang bertempat tinggal sama di suatu daerah batas negara, propinsi, kabupaten, kotamadya, kecamatan, desa, serta tempat lainnya dan merupakan ilmu yang mempelajari h-ubungan antara masalah-masalah kesehatan dengan distribusi dan frekuensi penyakit yang menimpa masyarakat yang disebut sebagai epidemiologi analitik.Epidemiologi analitik sering digunakan atau dipakai pada penelitian kesehatan untuk mengetahui dan mempelajari hubungan antara faktor risiko dan masalah-masalah kesehatan yang terjadi di dalam masyarakat(Chandra, 2009).
B.  Tujuan
1.      Menjelaskan definisi epidemiologi analitik.
2.      Menjelaskan jenis disain epidemiologi analitik.
3.      Menjelaskan kualitas data dan hubungan sebab akibat dalam epidemiologi analitik.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Epidemiologi Analitik
Epidemiologi analitik adalah ilmu yang mempelajari determinan yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dan distribusi penyakit atau masalah yang berkaitan dengan kesehatan (Lapau, 2009). Epidemiologi analitik di samping meliputi pemahaman terhadap dasar-dasar epidemiologi deskriptif juga mempunyai pembidangan yang lebih khusus. Kekhususannya tersebut menekankan pada aspek analisis yaitu mengkhususkan diri pada analisis hubungan antara fenomena kesehatan dengan berbagai variabel lain (Riyadi dan Wijayanti, 2011).
Epidemiologi analitik dilakukan untuk mengidentifikasi dan menguji hipotesa tentang hubungan antara faktor penyebab yang diduga dan hasil (penyakit) tertentu yang muncul. Dalam pembuatan hipotesa umumnya diarahkan pada apakah suatu faktor pemaparan tertentu dapat menyebabkan suatu keadaan (penyakit) tententu. Yang termasuk dalam faktor pemaparan seperti sifat, perilaku, faktor lingkungan atau karakteristik lain yang mungkin menjadi penyebab penyakit. Epidemiologi analitik ini ditujukan untuk menentukan kekuatan, kepentingan dan makna statistik dari hubungan epidemiologi antara pemapar dan akibat yang ditimbulkan (Ferasyi, 2008). Jadi, secara umum epidemiologi analitik adalah penelitian epidemiologi yang bertujuan untuk memperoleh penjelasan tentang faktor-faktor risiko dan penyebab penyakit serta membandingkan risiko terkena penyakit antara kelompok terpapar dan tak terpapar.
B.     Jenis Disain Epidemiologi Analitik
Epidemiologi analitik terdiri dari: (1) Studi observasi (case control, cohort, cross sectional), (2) Eksperimen/intervensi (eksperimen kuasi, eksperimen murni) (Rajab, 2009).
Sedangkan menurut Lapau (2009) dan Bustan (2006), kelompok jenis disain epidemiologi analitik dapat dibagi menjadi dua subkelompok, yaitu:


1.      Studi Observasional, yang terbagi atas:
a.       Studi Potong Lintang (cross sectional)
b.      Studi Kasus Kontrol (Case-control)
c.       Studi Kohort (Follow-up)
2.      Studi Eksperimental, yang terbagi atas:
a.       Studi sebelum dan sesudah eksperimen dengan kontrol
b.      Trial klinik yang dirandomisasi
c.       Trial komunitas yang dirandomisasi

Menurut Sugiyono (2011) terdapat beberapa bentuk desain eksperimen, yaitupre-experimental design, true experimental design, dan quasy experimental design.
1.         Studi Observasional
a.    Studi Potong Lintang (cross sectional)
Menurut Nugrahaeni (2011), Studi potong lintang (cross sectional) untuk penelitian analitik adalah studi yang mempelajari hubungan faktor risiko (paparan) dan efek (penyakit/masalah kesehatan) dengan cara mengamati faktor risiko dan efek secara serentak pada banyak individu dari suatu populasi pada satu saat. Misalnya, penelitian mengenai perbedaan pemberian ASI Eksklusif pada berbagai tingkat pendidikan ibu, penelitian mengenai beda proporsi hiperlipidemia pada pria dan wanita, dan penelitian mengenai hubungan berbagai faktor risiko dalam menyebabkan terjadinya penyakit tertentu. Adapun skema studi potong lintang adalah sebagai berikut.







Populasi
Faktor Risiko +  =
Efek +
Efek -
Sampel
 


Efek +
                        Dianalisis
Faktor Risiko -
Efek -
 



Penelitian cross sectional ini sering disebut juga penelitian tranversal, dan sering digunakan dalam penelitian-penelitian epidemiologi. Dibandingkan dengan penelitian-penelitian yang lain, metode penelitian ini merupakan yang paling lemah karena penelitian ini paling mudah dilakukan dan sangat sederhana (Notoadmodjo, 2005). Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional dapat dilakukan di rumah sakit atau dilapangan. Penelitian klinis yang dilakukan di rumah sakit banyak menggunakan pendekatan cross sectional dengan tujuan untuk mencari adanya hubungan antara pajanan terhadap faktor risiko dan timbulnya penyakit sebagai akibat pajanan tersebut. Hal ini dilakukan karena penelitian dengan pendekatan cross sectional untuk tujuan analitis akan lebih cepat, lebih praktis dan efesien serta data yang telah ada dapat dimanfaatkan walaupun terdapat beberapa kelemahan karena pengamatan sebab dan akibat dilakukan pada saat yang bersamaan, tanpa urutan waktu yang lazim, yaitu sebab mendahului akibat, yang merupakan salah satu syarat penting dalam menentukan hubungan sebab akibat (Hasmi, 2012).
Menurut Budiarto dan Anggraeni (2002), penelitiancross sectional memiliki ciri-ciri dan langkah-langkah dalam melakukan penelitiannya. Ciri-ciri dari penelitian cross sectional tersebut sebagai berikut:
1)      Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan prevalensi penyakit tertentu.
2)      Pada penelitian ini tidak terdapat kelompok pembanding.
3)      Hubungan sebab-akibat hanya merupakan perkiraan saja.
4)      Penelitian ini dapat menghasilkan hipotesis.
5)      Merupakan penelitian pendahuluan dari penelitian analitis.
Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian cross sectional sebagai berikut :
1)   Identifikasi dan perumusan masalah.
2)   Menentukan tujuan penelitian.
3)   Menentukan lokasi dan populasi studi.
4)   Menentukan cara dan besar sampel.
5)   Memberikan definisi operasional.
6)   Menentukan variabel yang akan diukur.
7)   Menyusun instrumen pengumpulan data.
8)   Rencana analisis.
Bustan (2006) menjelaskan kelebihan dan kekurangan pada studi potong lintang (cross sectional), yaitu:
1)   Kelebihan studi potong lintang:
a)      Cepat, dapat dilakukan dengan hanya sekali pengamatan atau interview.
b)      Murah, bahkan dapat termurah dibandingkan dengan penelitian lainnya.
c)      Berguna untuk informasi bagi perencanaan misalnya untuk menentukan lokasi rumah sakit, penganggaran obat, dan peralatan medis, dan jenis jenis pelayanan yang diperlukan.
d)     Untuk mengamati kemungkinan hubungan berbagai variabel yang ada.






2)   Kelemahan studi potong lintang :
a)      Umumnya hanya menemukan kasus yang selamat. Tidak dapat menemukan mereka yang mati karna penyakit yang diteliti.
b)      Sulit dilakukan terhadap penyakit atau masalah yang jarang dalam masyarakat.
c)      Sulit dipakai untuk penyakit yang akut, pendek masa inkubasi dan masa akhirnya.

b.    Studi Kasus Kontrol (Case- control)
1)   Pengertian Kasus Kontrol
Studi kasus kontrol merupakan studi penelitian yang dimana peneliti akan melakukan observasi atau pengukuran terhadap variabel bebas dan tergantung tidak dalam satu waktu. Penelitian ini merupakan penelitian observasional karena peneliti tidak memberi perlakuan kepada subjek penelitian (Ningtyas,2015).
Kasus kontrol dapat digunakan untuk mempelajari penyakit yang jarang karena kasus-kasus dikumpulkan secara retrospektif dari data suatu kelompok pada rumah sakit yang besar dan dibandingkan dengan kontrol yang bebas penyakit (Richard, dkk, 2008). Tujuan studi kasus kontrol yaitu untuk mengembangkan hipotesis atau membuktikan hipotesis secara terbatas tentang hubungan variabel dependen dan variabel independen serta menyelidiki faktor-faktor yang mungkin menghasilkan informasi dalam rangka mencegah atau mengobati penyakit atau masalah tertentu. Dalam studi kasus kontrol, kelompok yang dipilih adalah Kelompok Kasus dan Kelompok Kontrol (Lapau, 2009). Yang dimaksud dengan kelompok kasus adalah subjek yang didiagnosis menderita penyakit. Kelompok kontrol adalah subjek yang tidak menderita suatu penyakit yang diambil secara acak dari populasi yang sama dengan populasi asal kasus (Tamza, 2013).
Sedangkan menurut Budiarto dan Anggraeni (2002), kelompok kasus atau kelompok penderita ialah kelompok individu yang menderita penyakit yang akan diteliti dan ikut dalam proses penelitian sebagai subjek studi. Hal ini penting dijelaskan karena tidak semua orang yang memenuhi kriteria penyakit yang akan diteliti bersedia mengikuti penelitian dan tidak semua penderita memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Kelompok kontrol ialah kelompok individu yang sehat atau tidak menderita penyakit yang akan diteliti, tetapi mempunyai peluang yang sama dengan kelompok kasus untuk terpajan oleh faktor risiko yang diduga sebagai penyebab timbulnya penyakit dan bersedia menjadi subjek studi.
Secara skematis stuktur penelitian kasus-kontrol dapat di gambarkan sebagai berikut:
Penjelasan untuk gambar tersebut adalah pada keadaaan awal, peneliti mengkategorikan kelompok penderita sebagai kasus dan kelompok bukan penderita sebagai kontrol kemudian kedua kelompok ditelusuri pengalaman terpajan oleh faktor resiko pada masa lalu. Pada sebagian kelompok kasus akan terpajan oleh faktor resiko dan sebagian lagi tidak terpajan, demikian pula halnya dengan kelompok kontrol. Perbedaan pengalaman terpajan oleh faktor risiko pada kedua kelompok dibandingkan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara penyakit yang diteliti dengan faktor risiko yang diduga sebagai penyebab (Budiarto, 2004).
2)      Ciri-ciri Kasus Kontrol
Ciri- ciri case control adalah bersifat observasional, diawali dengan kelompok penderita dan bukan penderita, terdapat kelompok kontrol, kelompok kontrol harus memiliki risiko terpajan oleh faktor risiko yang sama dengan kelompok kasus, membandingkan besarnya pengalaman terpajan oleh faktor antara kelompok kasus dan kelompok kontrol, tidak mengukur insidensi (Budiarto dan Anggraeni, 2002).
Langkah-langkah dalam melakukan penelitian dengan menggunakan case control adalah:
1)   Identifikasi variabel-variabel penelitian (faktor risiko atau efek).
2)   Menetapkan objek penelitian (populasi dan sampel).
3)   Identifikasi kasus.
4)   Pemilihan subjek sebagai kontrol.
5)   Melakukan pengukuran “retrospektif” (melihat ke belakang) untuk melihat faktor risiko.
6)   Melakukan analisis dengan membandingkan proporsi antara variabel-variabel objek penelitian dengan variabel-variabel objek control(Abidin, 2012).
   Contoh kasus yaitu pada penelitian kasus kontrol Avian Influenza pada unggas di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kajian kasus-kontrol dilakukan pada dusun sebagai unit kajian.Sebagai kasus adalah dusun yang pernah dilaporkan atau sedang mengalami kasus AI, dan kontrol merupakan dusun yang dilaporkan belum pernah mengalami, tetapi dekat dengan dusun kasus.Besarnya sampel kajian kasus kontrol dihitung menggunakan rumus menyidik penyebab penyakit maka didapat masing-masing 109 dusun kasus dan 109 dusun kontrol. Untuk komparabilitas kedua kelompok dilakukan berdasarkan faktor resiko penyebab AI yang diteliti meliputi tanggal pengambilan sampel, kabupaten, kecamatan, tipe pertenakan, asal DOC, status vaksinasi (pernah atau belum, jenis atau produk vaksin, jumlah vaksinasi), identifikasi atau tindakan pasca vaksinasi, sumber pakan, manajemen umum seperti lokasi kandang, sistem pemeliharaan, masa istirahat kandang, cara pencucian kandang, sumber air, biosekuriti seperti sanitasi personal, sanitasi peralatan, sanitasi lingkungan. Data dianalisis dengan Chi Square (x2) dan Odds Ratio(OR)(Widiasih, 2006).
   Metode penelitian kasus-kontrol sangat sesuai untuk penelitian penyakit yang sangat jarang terjadi atau penyakit dengan fase laten yang panjang, misalnya hubungan antara rokok dan karsinoma paru-paru atau hubungan kontrasepsi oral dan karsinoma payudara, pelaksanaan penelitian kasus-kontrol relatif lebih cepat dibandingkan dengan penelitian kohort karena penelitian diawali dengan kelompok penderita tanpa harus menunggu insidensi seperti pada penelitian kohort, biaya yang dibutuhkan untuk mengadakan penelitian kasus-kontrol relatif lebih kecil dibandingkan dengan penelitian kohort, metode penelitian kasus-kontrol tidak dipengaruhi faktor etis seperti pada penelitian eksperimen karena pada penelitian kasus-kontrol, intervensi tidak dilakukan oleh peneliti, data yang ada dapat dimanfaatkan terutama bila penelitian dilakukan dengan berbasis rumah sakit, dan dapat digunakan sebagai penelitian pendahuluan terhadap penyakit yang belum diketahui penyebabnya (Budiarto, 2004).
3)      Kekurangan dan Kelebihan Kasus Kontrol
a)      Kekurangan:
-        Hanya bisa menginvestigasi satu outcome atau satu kondisi kesehatan/penyakit, karena kita mulai dari satu kondisi kesehatan dan kita kilas balik ke belakang banyak paparan yang mungkin telah terjadi.
-        Tidak bisa menghitung angka insiden atau ukuran asosiasi absolut lainnya. Kasus dipilih dari populasi sumber yang memiliki outcome, sedangkan kelompok kontrol merupakan estimasi distribusi faktor paparan dari populasi sumber, sehingga hasil perhitungan yang kita dapatkan adalah Odds Rasio (OR). Walaupun asosiasi bisa ditegakkan dengan perhitungan Odds rasio, tetapi tidak bisa menghitung resiko absolut (abosulute risk) karena angka insiden tidak diketahui.
-        Bias seleksi. Tidak mudah untuk memilih responden pada kelompok kontrol, karena responden sebisa mungkin tidak terpapar dari faktor risiko yang merupakan penyebab dari penyakit pada kelompok kasus, karena kemungkinan kelompok kontrol bisa menderita sakit yang sama seperti kelompok kasus, tetapi masih tahap tanpa gejala (asymptomatic group) dengan faktor risiko tersebut. Sehingga kemungkinan terjadinya bias seleksi sangat besar. Misal, untuk mengetahui hubungan antara kasus kanker paru-paru dan merokok. Untuk pemilihan kasus kontrol, peneliti harus semaksimal mungkin untuk memilih kelompok ini pada pasien penyakit selain kasus kanker, yang tidak terpapar dengan rokok, misal penyakit mag, pasien katarak yang bukan perokok dan sebagainya.
-        Bias informasi. Seperti kita pahami, bahwa informasi yang kita akan dapatkan tergantung daya ingat responden. Rekam medis dapat meminimalisir bias informasi, tetapi tidak semua faktor risiko/paparan terdokumentasi pada rekam medis. Oleh karena itu, kemungkinan bias pada informasi tinggi, terutama untuk kelompok kontrol. Kelompok kasus akan cenderung lebih mengingat faktor risiko yang dia alami daripada kelompok kontrol. Seperti contoh diatas, ibu dengan anak BBLR, umumnya daya ingat akan faktor paparan yang dia alami, memorinya akan lebih tinggi daripada ibu yang melahirkan bayi normal, misalnya status merokok, status gizi, periksa kehamilan dan sebagainya(Rothman, 2002).
b.    Studi kohort (Follow-up)
1)      Pengertian Kohort
Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu penyebab penyakit (agent). Kemudian, diambil sekelompok orang lain yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama, tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada penyebab penyakit. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol.Setelah beberapa saat yang telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaannya antara kedua kelompok tersebut bermakna atau tidak (Notoadmodjo, 2005).
Contoh kasus studi kohort adalah pada penelitian Misti (2012) tentang Resiko Kebiasaan Minum Kopi pada Kasus Toleransi Glukosa Terganggu terhadap Terjadinya Diabetes Mellitus Tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ketiga faktor risiko tersebut berhubungan dengan kejadian penyakit DBD di wilayah kecamatan Sawahan kota Surabaya. Penelitian ini adalah penelitian analitik observasional, rancangan kohort, sampel 1.092 rumah dan 4.549 orang responden dari tiga kelurahan di kecamatan Sawahan. Responden dilakukan wawancara dan pemeriksaan langsung lalu diikuti selama tiga bulan ke depan (Maret-Juni 2010) untuk mengetahui apakah ada kejadian penyakit DBD dari paparan yang ada. Analisis secara deskriptif dilakukan untuk mengetahui distribusi responden dan kejadian penyakit DBD dilakukan, uji chi-square digunakan untuk mengetahui hubungan antara paparan dan kejadian penyakit DBD dan untuk mengetahui derajat hubungannya digunakan ukuran Resiko Relative (RR) (Misti, 2012).
2)      Kelebihan dan Kekurangan Studi Kohort
Menurut Srikanth dan Doddamani (2013), Studi Kohort memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:
a)      Kelebihan
-          Dapat menjadi penilaian terbaik dari studi paparan penyakit langka atau baru.
-          Salah satu desain terbaik jika paparan perlu diukur secara langsung.
-          Hanya cara untuk mendapatkan informasi calon untuk penyakit fatal.
-          Menjelaskan riwayat alami penyakit.
-          Dapat memeriksa beberapa hasil terkait dengan paparan.
-          Dapat memperkirakan kedua tingkat penyakit keseluruhan dan spesifik.
-          Tidak ada recall dan bias seleksi, hasil yang lebih konklusif dari studi kasus-kontrol.
b)       Kekurangan
-          Tidak praktis untuk penyakit langka atau baru.
-          Tidak signifikan secara statistik.
-          Sarana dan biaya biasanya mahal.
-          Memerlukan waktu yang lama.
2.         Studi Eksperimental
1)      Pengertian Studi Eksperimental
Eksperimen merupakan suatu penelitian yang menjawab
pertanyaan “jika kita melakukan sesuatu pada kondisi yang dikontrol secara ketat maka apakah yang akan terjadi?”. Untuk mengetahui apakah ada perubahan atau tidak pada suatu keadaan yang di kontrol secara ketat maka kita memerlukan perlakuan (treatment) pada kondisi tersebut dan hal inilah yang dilakukan pada penelitian eksperimen. Sehingga penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2011).
Tujuan dari penelitian eksperimental adalah untuk mengukur efek dari suatu intervensi terhadap hasil tertentu yang diprediksi sebelumnya.Desain ini merupakan metode utama untuk menginvestigasi terapi baru.Misal, efek dari obat X dan obat Y terhadap kesembuhan penyakit Z atau efektivitas suatu program kesehatan terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Beberapa contoh penelitian dengan desain eksperimental, seperti mengukur efektivitas penggunaan antibiotik terhadap perawatan wanita dengan gejala infeksi saluran urin dengan hasil tes urin negatif / negative urine dipstict testing dan efektivitas program MEND (Mind, Exercise, Nutrition, Do it) terhadap tingkat obesitas pada anak (Bonita, 2006).
Menurut Sugiyono (2011) terdapat beberapa bentuk desain eksperimen, yaitupre-experimental design, true experimental design, dan quasy experimental design.
1.    Pre-experimental design
Desain ini dikatakan sebagai Pre-experimental design karena belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh.Masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel dependen. Bentuk Pre-experimental design dibagi beberapa macam antara lain:

1)      One-Shoot Case Study
Jenis one-shot case study dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan pengukuran dan nilai ilmiah suatu desain penelitian. Adapun bagan dari one-shot case study adalah sebagai berikut:



X
O
Perlakuan terhadap variabel independen (Treatment of independent variable)
Pengamatan atau pengukuran terhadap variabel dependen (Observation or measurement of dependent variable)

Dengan X: kelompok yang akan diberi stimulus dalam eksperimen dan O: kejadian pengukuran atau pengamatan. Bagan tersebut dapat dibaca sebagai berikut: terdapat suatu kelompok yang diberi perlakuan, dan selanjutnya diobservasi hasilnya. Contoh: Pengaruh penggunaan Komputer dan LCD (X) terhadap hasil belajar siswa (O).
2)      The one group pretest-posttest design
 Perbedaan dengan desain pertama adalah, untuk the one group pretest-posttest design, terdapat pretest sebelum diberi perlakuan, hasil perlakuan dapat diketahui dengan lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum diberi perlakuan. Bentuk bagan desain tersebut adalah sebagai berikut.
O1
X
O2
Pretest
Treatment
Posttest

3.    The static-group comparison
Penelitian jenis ini menggunakan satu group yang dibagi menjadi dua, yang satu memperoleh stimulus eksperimen (yang diberi perlakuan) dan yang lain tidak mendapatkan stimulus apapun sebagai alat kontrol. Masalah yang akan muncul dalam desain ini adalah meyangkut resiko penyeleksian terhadap subjek yang akan diteliti. Oleh karena itu, grup tersebut harus dipilih secara acak.
4.      True experimental design
Disebut sebagai true experiments karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Jadi, validitas internal (kualitas pelaksnaaan rancangan penelitian) menjadi tinggi. Sejalan dengan hal tersebut, tujuan dari true experiments menurut Suryabrata (2011) adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan perlakuan dan membandingkan hasilnya dengan grup kontrol yang tidak diberi perlakuan. True experiments ini mempunyai ciri utama yaitu sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. Atau dengan kata lain dalamtrue experiments pasti ada kelompok kontrol dan pengambilan sampel secara random. Design ini terbagi atas:
a.    Pretest-posttes control group design
Dalam desain ini terdapat dua grup yang dipilih secara random kemudian diberi pretest untuk mengetahui perbedaan keadaan awal antara group eksperimen dan group kontrol.Hasil pretest yang baik adalah jika nilai group eksperimen tidak berbeda secara signifikan.
b.    Posttest-only control group design
Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang masing-masing dipilih secara random (R). Grup pertama diberi perlakuan (X) dan grup yang lain tidak. Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol.
5.      Quasi experimental design
Quasi experiments disebut juga dengan eksperimen pura-pura. Bentuk desain ini merupakan pengembangan dari true experimental design yang sulit dilaksanakan. Desain ini mempunyai variabel kontrol tetapi tidak digunakan sepenuhnya untuk mengontrol variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.Desain digunakan jika peneliti dapat melakukan kontrol atas berbagai variabel yang berpengaruh, tetapi tidak cukup untuk melakukan eksperimen yang sesungguhnya.Dalam eksperimen ini, jika menggunakan random tidak diperhatikan aspek kesetaraan maupun grup kontrol (Fatoni, 2013).
Tujuan penelitian experiment semu adalah untuk menjelaskan hubungan-hubungan, megklarifikasi penyebab terjadinya suatu peristiwa, atau keduanya.Desain penelitian quasi eksperimen sering digunakan pada penelitian lapangan (Riyanto, 2011).
2) Kelebihan dan Kekurangan Studi Eksperimental
a)    Kelebihan
-       Memungkinkan untuk dilakukan randomisasi dan melakukanpenilaian penelitian dengan double blind.
-       Dengan teknik randomisasi, peneliti bisa mengalokasikan sampel penelitian kedalam dua atau lebih kelompok berdasarkan kriteria yang telah ditentukan peneliti lalu diikuti ke depan.
-       Bisa meminimalisir faktor perancu yang dapat menyebabkan bias dalam hasil penelitian.    
b)   Kekurangan
-       Berkaitan dengan masalah etika, waktu dan masalah pengorganisasian penelitian (Najmah, 2015).




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Epidemiologi analitik adalah ilmu yang mempelajari determinan yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dan distribusi penyakit atau masalah yang berkaitan dengan kesehatan. Epidemiologi analitik di samping meliputi pemahaman terhadap dasar-dasar epidemiologi deskriptif juga mempunyai pembidangan yang lebih khusus. Kekhususannya tersebut menekankan pada aspek analisis yaitu mengkhususkan diri pada analisis hubungan antara fenomena kesehatan dengan berbagai variabel lain. Epidemiologi analitik ini ditujukan untuk menentukan kekuatan, kepentingan dan makna statistik dari hubungan epidemiologi antara pemapar dan akibat yang ditimbulkan.
Epidemiologi analitik terdiri dari: (1) Studi observasi (case control, cohort, cross sectional), (2) Eksperimen/intervensi (eksperimen kuasi, eksperimen murni). Studi potong lintang (cross sectional) untuk penelitian analitik adalah studi yang mempelajari hubungan faktor risiko (paparan) dan efek (penyakit/masalah kesehatan) dengan cara mengamati faktor risiko dan efek secara serentak pada banyak individu dari suatu populasi pada satu saat. Studi kasus kontrol merupakan studi penelitian yang dimana peneliti akan melakukan observasi atau pengukuran terhadap variabel bebas dan tergantung tidak dalam satu waktu. Penelitian ini merupakan penelitian observasional karena peneliti tidak memberi perlakuan kepada subjek penelitian. Dalam studi kohort sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu penyebab penyakit (agent). Kemudian, diambil sekelompok orang lain yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama, tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada penyebab penyakit.
Penelitian eksperimen dapat dikatakan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Tujuan dari penelitian eksperimental adalah untuk mengukur efek dari suatu intervensi terhadap hasil tertentu yangdiprediksi sebelumnya.Desain ini merupakan metode utama untuk menginvestigasi terapi baru.


DAFTAR PUSTAKA

Abidin,Zainal. 2012. “Macam-Macam Penelitian”, skripsi, Fakultas Kedokteran Universitas HasanuddinMakasssar.
Bonita, dkk: WHO Press; 2006 [cited. Available from:
Budiarto, Eko., dan Anggraeni, Dewi. 2002. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : EGC.
Budiarto, Eko. 2004. Metode Penelitian Kedokteran Sebuah Pengantar. Jakarta: EGC.
Bustan, M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : PT RINEKA CIPTA.
Chandra, Budiman. 2009. Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Fatoni, Fanny. 2013. Experimental Researce. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Ferasyi, T. R. 2008. Epidemiologi Dan Ekonomi Veteriner. Banda Aceh : Syiah Kuala University Press.
Hasmi. 2012. Metodologi Penelitian Epidemiologi. Jakarta : CV. Trans Info Media.
Lapau, Buchari.2009. Prinsip dan Metode Epidemiologi. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
Misti, Rahayu, Dkk. 2012.Studi Kohort Kejadian Penyakit Dbd Di Wilayah Kecamatan Sawahan Kota Surabaya Tahun 2010. Yogyakarta: UGM.
Ningtyas, Dwi Wahyu dan Wibowo, Arief. 2015. Pengaruh Kualitas Vaksin Campak Terhadap Kejadian Campak di Kabupaten Pasuruan. Jurnal Berkala Epidemiologi. 3 (3) : 315-326.
Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Nugrahaeni, D.K. 2011. Konsep Dasar Epidemiologi. Jakarta : EGC.
Rajab, Wahyudin. 2009. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.
Riyanto, Agus. 2011. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Rothman KJ. 2002. Epidemiology, An Introduction. New York: Oxford University Pres. p.57-93.
Ryadi, A, L, Slamet dan Wijayanti, T. 2011. Dasar-Dasar Epidemiologi. Jakarta : Salemba Medika.
Srikanth, dan Doddamani, Praveen Kumar. 2013. Overview Of Study Designs. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 5 (3) : 1020-1024.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suryabrata, Sumadi. 2011. Metode Penelitian. Jakarta: PT RajaGravindo Persada.
Tamza, dkk. 2013. “Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Wilayah Kelurahan Perumnas Way Halim Kota Bandar Lampung”. Jurnal Kesehatan Masyarakat.02 (02) : 1-9.
Vaughan, J, P, dan Morrow, R, H, 1993. Panduan Epidemiologi. Bandung : ITB.

Widiasih, dkk. 2006. “Kajian Kasus-Kontrol Avian Influenza pada Unggas Di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta”. J Sain Vet.Volume 24: 71-76.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar